Konteks Manajemen Proyek & TI
NAMA KEL : HERDYNANSYAH (24114939)
LEPRANDO (26114038)
LUTHFI ERZANI ATMAJA (26114189)
3kb02
Konteks Manajemen Proyek & TI
1.
Gambaran
Sistem Manajamen Proyek
Manajemen merupakan proses terpadu dimana
individu-individu sebagai bagian dari organisasi dilibatkan untuk memelihara, mengembangkan,
mengendalikan, dan menjalankan program-program, yang kesemuanya diarahkan pada
sasaran yang telah ditetapkan dan berlangsung menerus seiring dehgan
berjalannya waktu. Supaya proses manajemen dapat berlangsung sangkil dan
mangkus diperlukan sistem serta struktur organisasi yang memadai dengan program
yang berorientasi pada tercapainya sasaran. Organisasi berfungsi sebagai wahana
untuk menuangkan konsep atau karya-karya manajerial dari individu-individu yang
terlibat dalam mengemban tanggung jawab manajemen. Manajemen dapat dipandang
sebagai suatu rangkaian beberapa tanggung jawab fungsional yang berhubungan
erat satu sama lain dan secara keseluruhan membentuk jaringan kerja yang
teratur serta sistematis. Jaringan kerja tersebut jangan sekali-kali
ditafsirkan hanya sebagai gabungan satuan-satuan atau tahapan kegiatan yang
terpisah, tetapi keseluruhannya merupakan suatu set atau kesatuan interaksi
kegiatan-kegiatan. Untuk tujuan analisis ataupun menguraikannya, tentunya dapat
saja dicuplik fungsi tertentu dari set, tetapi harus dengan selalu mengingat
bahwa sesuatu kegiatan pada fungsi tertentu mempunyai hubungan dan berdampak
terhadap satu atau lebih fungsi lainnya.
Pada umumnya yang ditetapkan sebagai
fungsi-fungsi pokok dalam manajemen adalah merencanakan, mengorganisasikan, dan
mengendalikan. Sedangkan fungsi-fungsi manajerial penting lainnya, yaitu:
memimpin, mengerahkan, mengarahkan, mengaktifkan, memberi contoh, membangun
motivasi, mengkoordinasikan, mengkomunikasikan, dan yang tidak kalah penting
adalah pengambilan keputusan. Penekanan kepada mana yang lebih penting dari
fungsi-fungsi tersebut amat tergantung pada permasalahan spesifik yang dihadapi
oleh para manajer dalam mengemban tugas-tugasnya. Akan tetapi bagaimanapun
bentuk per-masalahan yang dihadapi, konsep manajemen sebagai suatu set
keseluruhan tanggung jawabfungsional yang ditunjukkan melalui kinerja para
manajer akan lebih menonjol dan bersifat kekal. Sebagaimana layaknya suatu
proses, apabila ke dalamnya diberikan masukan-masukan(input) secukupnya
diharapkan manajemen dapat menghasilkan keluaran-keluaran (output),yaitu
tercapainya tujuan ataupun sasaran sebagaimana yang ditetapkan, lihat (Gambar Bagan Proses Manajemen). Sebagai
masukan ke dalam proses manajemen adalah bermacam sumber daya, keterampilan
ataupun kekayaan lainnya termasuk manusia atau tenaga kerja, material (bahan),
modal (dana), mesin-mesin (alat), dan metode-metode kerja. Proses manajemen
harus mampu menunjukkan kinerja yang sangkil serta mangkus. Kesangkilan
menyangkut hubungan antara masukan dan keluaran, dalam arti berlangsung
peningkatan efisiensi di dalam proses. Sedang mangkus berkaitan dengan
pencapaian tujuan, dalam arti jika manajemen berhasil mencapai tujuannya
berarti mereka berdaya guna. Seorang pakar manajemen, Peter F.Drucker, mengartikan
kesangkilan sebagai melakukan pekerjaan dengan benar, sedangkan mangkus
diartikan sebagai melakukan pekerjaan yang benar. Sehingga selama menjalankan tugas dan tanggung
jawabnya, manajer harus berusaha untuk selalu mengupayakan hasil mangkus dan
sangkil yang semaksimal mungkin.
Sebagai dasar dan landasan
utama dalam melaksanakan tugas manajemen pada setiap jenjang dari berbagai
bentuk bidang usaha, harus mampu mengupayakan dan menciptakan suatu lingkungan
kerja bagi segenap individu yang terlibat dengan cara membentuk semangat
kerjasama dalam suatu grup kerja atau Tim Kerja. Sehingga masing-masing
dapat menyelesaikan tugas demi untuk pencapaian sasaran bersama seperti apa
yang telah disepakati. Atau dengan kata lain, para manajer dalam melaksanakan
tugasnya mengemban tanggung jawab untuk berupaya agar masing-masing individu
dapat memberikan andil sepenuhnya secara mangkus dalam rangka mencapai sasaran
organisasi dengan didasarkan pada semangat Tim Kerja. Termasuk upaya
menciptakan suasana lingkungan dalam satu kesatuan Tim Kerja adalah menanamkan
semangat untuk selalu secara bersama-sama memelihara dan melestarikan
cita-cita para manajer baik secara logis maupun moral, demi dapat tercapainya
segenap sasaran organisasi.
Dari kesemua uraian di atas, dapatlah dipakai
suatu penyederhanaan pemahaman bahwa manajemen merupakan proses penggunaan
sumber daya secara sangkil dan mangkus untuk mencapai sasaran atau tujuan yang
telah ditetapkan. Dengan demikian seorang manajer dari jenjang manapun, macam
bidang usaha apapun, dari perusahaan skala kecil maupun besar

Gambar Bagan
Proses Manajemen
tugas
utamanya adalah mengelola bagian organisasi yang menjadi tanggung jawabnya agar
berjalan sesuai dengan rencana sehingga dapat: (1) mencapai tujuan organisasi
dengan menggunakan sesedikit mungkin masukan sumber daya, sejak dari yang
berbentuk modal (dana), material (bahan), usaha (kegiatan), waktu, sampai yang
berwujud ketidakpuasan manusiawi atas keadaan yang ada, ataupun (2) membawakan
tugasnya untuk mencapai tujuan organisasi semaksimal mungkin berdasarkan pada
sumber daya yang tersedia.
Proyek dengan
segala ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilibatkan di dalamnya merupakan
salah satu upaya manusia dalam rangka membangun kehidupannya. Sesuatu proyek
merupakan upaya dengan mengerahkan sumber daya yang tersedia, yang
diorganisasikan untuk mencapai tujuan, sasaran, dan harapan penting tertentu.
Proyek harus diselesaikan dalam jangka waktu terbatas sesuai dengan
kesepakatan. Sebuah proyek terdiri dari urutan dan rangkaian kegiatan panjang
dan dimulai sejak dituangkannya gagasan, direncanakan, kemudian dilaksanakan,
sampai benar-benar memberikan hasil-hasil yang sesuai dengan perencanaannya.
Sehingga pelaksanaan proyek pada umumnya merupakan rangkaian
mekanisme tugas dan kegiatan kompleks, membentuk saling ketergantungan, dan
mengandung berbagai permasalahan tersendiri. Dengan demikian rangkaian
mekanisme kegiatan-kegiatan di dalam proyek akan membentuk kesatuan sistem
manajemen. Semakin kompleks mekanismenya, sudah barang tentu semakin beraneka
pula permasalahan yang harus dihadapi. Apabila tidak ditangani dengan benar,
berbagai permasalahan tersebut akan mengakibatkan munculnya berbagai dampak
negatif yang pada akhirnya bermuara pada kegagalan dalam mencapai tujuan dan
sasaran yang dicita-citakan.
Pengertian
sistem manajemen adalah sebagai suatu set yang terdiri atas susunan terpadu
dari konsep-konsep, dasar-dasar pengertian, atau teknik-teknik penanganan yang
berkaitan dengan manajemen. Sehingga konsep sistem manajemen proyek dapat
diartikan sebagai penataan serta pengorganisasian atas faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap keberhasilan manajemen proyek. Sistem manajemen proyek
disusun dan dijabarkan menjadi seperangkat pengertian, pedoman, alat-alat, dan
petunjuk tata cara pelaksanaan, sehingga mampu menghubungkan kesenjangan
persepsi, membangun kesamaan bahasa, serta mampu mewujudkan suatu bentuk
kerjasama dan koordinasi di antara satuan organisasi pelaksananya. Mengingat
kegiatan-kegiatan individual di dalam proyek membentuk hubungan saling
ketergantungan kompleks, perlu selalu ditumbuhkan keserasian hubungan kerja
yang mangkus di antara para pelaksananya. Hal tersebut mengingat pula bahwa
para pelaksana terdiri dari individu-individu yang berasal dari berbagai satuan
dan jenjang organisasi. Tingkat kekompakan pengertian dan kesadaran akan
pentiiignya penerapan konsep hubungan kerja yang serasi satu sama lainnya
sangat menentukan keberhasilan perencanaan dan pelaksanaan proyek, terutama
pada jenjang pejabat kunci. Mereka harus dapat mewujudkan semangat
kerja sama kokoh untuk mengkoordinasi dan mengendalikan pelaksanaan proyek
sehingga mampu memberikan landasan kuat bagi keberhasilan proyek. Dengan
demikian agar dapat menangani pelaksanaan proyek dengan baik atau paling tidak
dapat memperkecil peluang timbulnya permasalahan, diperlukan pendekatan dengan
menyusun suatu konsep Sistem Manajemen Proyek yang lengkap, kokoh, dan terpadu.
2. Model Sistem
Manajemen
1.
Definisi Model
Model
adalah penyederhanaan (abstraction) dari sesuatu. Model juga merupakan
perwakilan sejumlah objek atau aktivitas yang disebut dengan entitas (entity).
Biasanya manajer menggunakan model untuk memecahkan suatu masalah.
2.
Jenis-jenis Model
a.
Model Fisik
Adalah
penggambaran entitas dalam bentuk tiga dimensi. Model fisik berukuran lebih
kecil dari aslinya dan biasanya yang digunakan dalam dunia bisnis berupa
prototype model baru. Model fisik membantu suatu tujuan yang tidak dapat
dipenuhi oleh benda nyata. Contohnya investor pusat perbelanjaan dan pembuat
mobil dapat membuat sejumlah perubahan dengan lebih murah melalui rancangan
model fisik mereka dibandingkan dengan produk akhir.
b.
Model Naratif
Adalah
penggambarkan entitas secara lisan atau tulisan. Semua komunikasi bisnis adalah
model naratif, sehingga model naratif merupakan model yang paling popular dan
paling sering digunakan oleh pihak manajemen.
c.
Model Grafik
Adalah
model yang mewakili entitasnya dengan menggunakan garis, simbol & bentuk
dengan sedikit penjelasan naratif. Misalnya laporan keuangan ditambah dengan
grafik berwarna untuk meperjelas, flowchart, DFD dalam pembuatan database
d.
Model Matematis
Adalah
model yang disajikan dengan rumus matematika atau persamaan. Misalkan dalam
perhitungan BEP (Break even point) menggunakan rumus BEP = TFC / P – C.
keterangannya (BEP : Break Event Point, TFC : Total Fixed Cost, P : Price, C :
Cost). Model ini seringkali digunakan manajemen untuk kegiatan bisnis, atau
untuk prediksi, analisis dll. Karena model ini merupakan model dengan
ketelitian tinggi, namun seringkali model ini juga tidak disukai karena
disajikan dengan rumit. Sesuai dengan tingkat keperluannya saja maka model ini
digunakan.
3.
Kegunaan Model
Terdapat tiga kegunaan model
diantaranya :
a.
Mempermudah Pengertian
Suatu model pasti lebih sederhana
daripada entitasnya. Entitas lebih mudah dimengerti jika elemen-elemennya dan
hubungannya disajikan secara sederhana.
b.
Mempermudah Komunikasi
Suatu model digunakan karena pada
umumnya setelah pemecahan masalah manajer akan mengkomunikasikan baik hasil
maupun keputusan kepada pihak-pihak yang terhubung, maka model system sangat
dugunakan agar mempermudah jalur komunikasinya.
c.
Memperkirakan Masa Depan
Khususnya dalam model matematika,
model ini dapat memperkirakan apa yang akan terjadi di masa depan,namun tidak
seratus persen akurat. Karena banyak data yang dimasukkan ke dalam model
biasanya didasarkan atas berbagai asumsi, manajer juga harus menggunakan pertimbangan
dan intuisi untuk mengevaluasi model.
4.
Model Sistem Umum
Model
system umum adalah pendekatan yang dilakukan berdasarkan penggunaan komputer
dalam bisnis, mencakup hal semua sistem informasi di segala jenis organisasi,
dan sarana yang digunakan.
Model
system umum terdiri dari system fisik dan sistem konseptual. Demikian akan
dijelaskan sedikit mengenai kedua system ini.
a.
System Fisik
System fisik merupakan system
yang terbuka yang berhubungan dengan lingkunganya, sering diibaratkan perusahaan
mengubah sumberdaya (input) menjadi produk (output).
b.
System konseptual
System konseptual adalah sebagian
sistem terbuka yang dapat mengendalikan operasinya sendiri. Pengendalian
dicapai dengan menggunakan lingkaran yang terdapat di dalam sistem. Lingkaran
tersebut dinamakan lingkaran umpan balik, lingkaran ini menyediakan suatu jalur
bagi sinyal-sinyal dari sistem ke mekanisme pengendalian dan sebaliknya.
Mekanisme pengendalian adalah
sejenis alat yang menggunakan sinyal umpan balik untuk mengevaluasi kinerja
sistem dan menentukan apakah perlu dilakukan tindakan perbaikan.
System lingkaran tersebut
dibedakan menjadi 2 jenis yakni system lingkaran terbuka dan system lingkaran
tertutup.
Sistem
Lingkaran Terbuka adalah suatu sistem tanpa lingkaran umpan balik atau
mekanisme pengendalian. Perusahaan bisnis yang menggunakan konsep ini hanya
sedikit. Perusahaan-perusahaan tersebut menggunakan sistem terbuka, tetapi
umpan balik dan mekanise pengendaliannya tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Perusahaan itu mulai pada suatu jalan dan tidak pernah berganti arah. Jika
perusahaan kehilangan kendali, tidak ada yang dilakukan untuk mengendalikan
keseimbangan. Hasilnya adalah kehancuran sistem (kebangkrutan). Sedangkan
Sistem Lingkaran Tertutup adalah
suatu sistem yang memiliki lingkaran umpan balik dan mekanisme pengendalian.
Sistem tersebut dapat mengendalikan output-nya dengan membuat
penyesuaian-penyesuaian pada input-nya.
3. Pemahaman
mengenai Organisasi dan struktur dasar organisasi serta pengaruhnya pada proyek
Sebuah
organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti
penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi
sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi yang dianggap baik
adalah organisasi yang dapat diakui keberadaanya oleh masyarakat disekitarnya,
karena memberikan kontribusi seperti pengambilan sumber daya manusia dalam
masyarakat sebagai anggota-anggotanya sehingga menekan angka pengangguran
Orang-orang
yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus
menerus. Rasa keterkaitan ini bukan berarti keanggotaan seumur hidup akan
tetapi sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam
keanggotaan mereka meskipun pada saat mereka menjadi anggota orang-orang dalam
organisasi berpatipasi secara relatif teratur. Struktur organisasi
mendefinisikan cara tugas pekerjaan dibagi, dikelompokkan, dan dikoordinasikan
secara formal.
Variabel struktur
a.
Ukuran (size):
·
Makin besar akan semakin komplek impersonal, semakin
lugas , semakin sulit diarahkan, semakin sulit dipadukan
·
Ukuran menciptakan dilema
·
Tak ada yang tahu ukuran yang optimum
b.
Jumlah tingkatan hirarkhi:
·
Kalau terlalu banyak bisa timbul kesulitan
komunikasi vertikal
·
Sebaiknya tak terlalu banyak
·
Perhatikan efektivitas komunikasi
c.
Struktur kewenangan:
·
Orang-orang yang punya kewenangan membuat keputusan
bagi organisasi
·
Siapa saja yang termasuk dalam struktur
·
Bila hanya satu orang bisa timbil kesulitan
·
Pendelegasian wewenang
d.
Struktur komunikasi:
·
Variabel yang terpenting
·
Dari puncak hirarkhi sampai ke paling bawah
·
Juga perlu diperhatikan komunikasi horisontal
e.
Struktur tugas:
·
Sama dengan struktur peranan
·
Cara organisasi membagi-bagi tugas/pekerjaan kepada anggota-anggotanya
·
Apakah semua pekerjaan terbagi habis
·
Apakah semua anggota mendapat peranan
·
Apakah hanya orang tertentu saja yang berperan
f.
Struktur status dan prestis:
·
Apa yang diperoleh dari organisasi dengan
pengorbanan yang diberikan
·
Apakah prestis (gengsi) seseorang akan naik dengan
menjadi anggota organisasi
·
Apakah prestis terbagi secara merata
·
Apakah organisasi memiliki jenjang status yang
terbuka bagi semua anggota
g.
Jarak psikologis:
·
Antara orang yang di puncak (pengambil keputusan)
dan orang- orang di bawah (yang melakukan pekerjaan)
·
Komunikasi emosi antara orang-orang dalam hirarkhi
·
Menunjukkan kemudahan komunikasi vertikal
effektif/tidak
4.
Komitmen
Stakeholder dan Top Manajemen dalam Proyek TI
Stakeholder
adalah orang-orang yang terkait dalam aktivitas proyek dan setiap stakeholder
mempunyai komitmen untuk bekerja secara professional dan bertanggung jawab
dalam setiap manajemen proyek kerja. Stakeholder termasuk tim proyek, manajer
proyek, sponsor proyek, maupun user (pengguna).
5.
Phase
dan siklus hidup proyek
Ada 6 tahap siklus hidup proyek
yaitu: Model Water Fall, System Engineering, Over Lapping Phases, Prototyping,
Joint Aplication Development, Herative Life Cycle. Berikut penjelasan secara
detailnya:
a.
Model Water Fall
-
System / Information Engineering and Modeling.
Permodelan ini diawali dengan mencari kebutuhan dari keseluruhan sistem yang
akan diaplikasikan ke dalam bentuk software
-
Analisis Kebutuhan Perangkat Lunak / Software
Requirements Analysis. Proses pencarian kebutuhan diintensifkan dan difokuskan
pada software
-
Design. Proses ini digunakan untuk mengubah
kebutuhan-kebutuhan di atas menjadi representasi ke dalam bentuk “blueprint”
software sebelum coding dimulai
-
Coding. Untuk dapat dimengerti oleh mesin, dalam hal
ini adalah komputer, maka desain tadi harus diubah bentuknya menjadi bentuk
yang dapat dimengerti oleh mesin, yaitu ke dalam bahasa pemrograman melalui
proses coding - Maintenance
-
Testing / Verification. Sesuatu yang dibuat haruslah
di ujicobakan 2. System Engineering
-
Maintenance. Pemeliharaan suatu software diperlukan,
termasuk di dalamnya adalah pengembangan, karena software yang dibuat tidak
selamanya hanya seperti itu
b.
System Engineering
Tahapannya
dengan menggunakan OMT (Object Modelling Technique)
-
Model Objek
-
Model Dinamis
-
Model Fungsional
c.
Over Lapping Phases
-
Komunikasi pelanggan, yaitu tugas-tugas untuk
membangun komunikasi antara pelanggan dan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan
oleh pelanggan
-
Perencanaan, yaitu tugas-tugas untuk mendefinisikan
sumber daya, ketepatan waktu, dan proyek informasi lain yg berhubungan
-
Analisis Resiko, yaitu tugas-tugas yang dibutuhkan
untuk menaksir resiko manajemen dan teknis
-
Perekayasaan, yaitu tugas yang dibutuhkan untuk
membangun satu atau lebih representasi dari apikasi tersebut
-
Konstruksi dan peluncuran, yaitu tugas-tugas yang
dibutuhkan untuk mengkonstruksi, menguji, memasang , dan memberi pelayanan
kepada pemakai
-
Evaluasi Pelanggan, yaitu tugas-tugas untuk
mendapatkan umpan balik dari pelanggan
d.
Prototyping
-
Pengumpulan kebutuhan. Pelanggan dan pengembang
bersama-sama mendefinisikan format seluruh perangkat lunak, mengidentifikasikan
semua kebutuhan, dan garis besar sistem yang akan dibuat
-
Membangun prototyping. Membangun prototyping dengan
membuat perancangan sementara yang berfokus pada penyajian kepada pelanggan
(misalnya dengan membuat input dan format output)
-
Evaluasi protoptyping. Evaluasi ini dilakukan oleh
pelanggan apakah prototyping yang sudah dibangun sudah sesuai dengan keinginann
pelanggan
-
Mengkodekan sistem. Dalam tahap ini prototyping yang
sudah di sepakati diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman yang sesuai
-
Menguji sistem. Setelah sistem sudah menjadi suatu
perangkat lunak yang siap pakai, harus dites dahulu sebelum digunakan
-
Evaluasi Sistem. Pelanggan mengevaluasi apakah
sistem yang sudah jadi sudah sesuai dengan yang diharapkan
-
Menggunakan sistem. Perangkat lunak yang telah diuji
dan diterima pelanggan siap untuk digunakan
e.
Joint Aplication Development
-
Bussiness Modelling. Tahap ini untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan informasi
-
Data Modelling. Tahap aliran informasi yang sudah
didefinisikan, disusun menjadi sekumpulan objek data
-
Process Modelling. Tahap dimana objek data yang sudah
didefinisikan diubah menjadi aliran informasi yang diperlukan untukmenjalankan
fungsi-fungsi bisnis
-
Aplication Generation. Tahap dimana menggunakan
component program yang sudah ada atau membuat component yang bisa digunakan
lagi
-
Testing and Turnover. Tahap pengujian sistem
f.
Herative Life Cycle
-
Perencanaan (Planning). Tujuan dari tahap
perencanaan adalah untuk meng-hasilkan rencana kerja (work plan) formal untuk
pengembangan sistem
-
Pendefinisian Knowledge (Knowledge Definition).
Tujuan tahap ini adalah mendefiniskan kebutuhan knowledge dari sistem
-
Perancangan Knowledge (Knowledge Design). Tujuan
tahap ini adalah menghasilkan rancangan rinci untuk sistem
-
Koding dan pengujian (Code and Checkout). Tahap ini
menandakan dimulainya pemrograman
-
Verifikasi Knowledge (Knowledge Verification). Tahap
ini bertujuan untuk menentukan ketepatan, kelengkapan, dan konsistensi sistem
-
Evaluasi sistem (System Evaluation). Tahap ini
merupakan tahap akhir dari siklus dan bertujuan untuk menyimpulkan apa yang
dipelajari dari rekomendasi untuk perbaikan dan peningkatan
6.
Siklus
Hidup Produk
Siklus
hidup produk adalah suatu konsep penting yang memberikan pemahaman tentang
dinamika kompetitif suatu produk. Seperti halnya dengan manusia, suatu produk
juga memiliki siklus atau daur hidup. Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle)
ini yaitu suatu grafik yang menggambarkan riwayat produk sejak diperkenalkan ke
pasar sampai dengan ditarik dari pasar . Siklus Hidup Produk (Product Life
Cycle) ini merupakan konsep yang penting dalam pemasaran karena memberikan
pemahaman yang mendalam mengenai dinamika bersaing suatu produk. Konsep ini
dipopulerkan oleh levitt (1978) yang kemudian penggunaannya dikembangkan dan
diperluas oleh para ahli lainnya
Ada
berbagai pendapatan mengenai tahap – tahap yang ada dalam Siklus Hidup Produk
(Product Life Cycle) suatu produk. Ada yang menggolongkannya menjadi
introduction, growth, maturity, decline dan termination. Sementara itu ada pula
yang menyatakan bahwa keseluruhan tahap – tahap Siklus Hidup Produk (Product
Life Cycle) terdiri dari introduction (pioneering), rapid growth (market
acceptance), slow growth (turbulance), maturity (saturation), dan decline
(obsolescence). Meskipun demikian pada umumnya yang digunakan adalah
penggolongan ke dalam empat tahap, yaitu introduction, growth, maturity dan
decline
Menurut Basu Swastha
(1984:127-132), daur hidup produk itu di bagi menjadi empat tahap, yaitu:
-
Tahap perkenalan (introduction)
Pada
tahap ini, barang mulai dipasarkan dalam jumlah yang besar walaupun volume
penjualannya belum tinggi. Barang yang di jual umumnya barang baru (betul-betul
baru) Karena masih berada pada tahap permulaan, biasanya ongkos yang
dikeluarkan tinggi terutama biaya periklanan. Promosi yang dilakukan memang
harus agfesif dan menitikberatkan pada merek penjual. Di samping itu distribusi
barang tersebut masih terbatas dan laba yang diperoleh masih rendah
-
Tahap pertumbuhan (growth)
Dalam
tahap pertumbuhan ini, penjualan dan laba akan meningkat dengan cepat. Karena
permintaan sudah sangat meningkat dan masyarakat sudah mengenal barang
bersangkutan, maka usaha promosi yang dilakukan oleh perusahaan tidak seagresif
tahap sebelumnya. Di sini pesaing sudah mulai memasuki pasar sehingga
persaingan menjadi lebih ketat. Cara lain yang dapat dilakukan untuk memperluas
dan meningkatkan distribusinya adalah dengan menurunkan harga jualnya
-
Tahap kedewasaan (maturity)
Pada
tahap kedewasaan ini kita dapat melihat bahwa penjualan masih meningkat dan
pada tahap berikutnya tetap. Dalam tahap ini, laba produsen maupun laba
pengecer mulai turun. Persaingan harga menjadi sangat tajam sehingga perusahaan
perlu memperkenalkan produknya dengan model yang baru. Pada tahap kedewasaan
ini, usaha periklanan biasanya mulai ditingkatkan lagi untuk menghadapi persaingan
-
Tahap kemunduran (decline)
Hampir
semua jenis barang yang dihasilkan oleh perusahaan selalu mengalami kekunoan
atau keusangan dan harus di ganti dengan barang yang baru. Dalam tahap ini,
barang baru harus sudah dipasarkan untuk menggantikan barang lama yang sudah
kuno. Meskipun jumlah pesaing sudah berkurang tetapi pengawasan biaya menjadi
sangat penting karena permintaan sudah jauh menurun.Apabila barang yang lama
tidak segera ditinggalkan tanpa mengganti dengan barang baru, maka perusahaan
hanya dapat beroperasi pada pasar tertentu yang sangat terbatas'
Altematif-alternatif yang dapat dilakukan oleh manajemen pada saat penjualan
menurun antara lain:
a.
Memperbarui barang (dalam arti fungsinya)
b.
Meninjau kembali dan memperbaiki progrcm pemasaran
serta program produksiny a agar lebih efisien
c.
Menghilangkan ukuran, warna, dan model yang kurang
baik
d.
Menghilangkan sebagian jenis barang untuk mencapai
laba optimum pada barang yang sudah ada
e.
Meninggalkan sama sekali barang tersebut
7.
Model
Prediksi Siklus Hidup
Ada 6
tahap siklus hidup proyek yaitu: Model Water Fall, System Engineering, Over
Lapping Phases, prototyping, joint aplication development, dan herative life
cycle.
Berikut penjelasan secara
detailnya:
1.
Model Water Fall
-
System / Information Engineering and Modeling;
Permodelan ini diawali dengan mencari kebutuhan dari keseluruhan sistem yang
akan diaplikasikan ke dalam bentuk software.
-
Analisis Kebutuhan Perangkat Lunak / Software
Requirements Analysis; Proses pencarian kebutuhan diintensifkan dan difokuskan
pada software.
-
Design; Proses ini digunakan untuk mengubah
kebutuhan-kebutuhan diatas menjadi representasi ke dalam bentuk “blueprint”
software sebelum coding dimulai.
-
Coding; Untuk dapat dimengerti oleh mesin, dalam hal
ini adalah komputer, maka desain tadi harus diubah bentuknya menjadi bentuk
yang dapat dimengerti oleh mesin, yaitu ke dalam bahasa pemrograman melalui
proses coding.
-
Testing / Verification; Sesuatu yang dibuat haruslah
diujicobakan.
-
Maintenance; Pemeliharaan suatu software diperlukan,
termasuk di dalamnya adalah pengembangan, karena software yang dibuat tidak
selamanya hanya seperti itu.
2.
System Engineering
Tahapannya
dengan menggunakan OMT (Object Modelling Technique)
-
Model Objek.
-
Model Dinamis.
-
Model Fungsional.
3.
Over Lapping Phases
-
Komunikasi pelanggan ,yaitu tugas-tugas untuk
membangun komunikasi antara pelanggan dan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan
oleh pelanggan.
-
Perencanaan ,yaitu tugas-tugas untuk mendefinisikan
sumber daya, ketepatan waktu, dan proyek informasi lain yg berhubungan.
-
Analisis Resiko ,yaitu tugas-tugas yang dibutuhkan
untuk menaksir resiko manajemen dan teknis.
-
Perekayasaan ,yaitu tugas yang dibutuhkan untuk
membangun satu atau lebih representasi dari aplikasi tersebut.
-
Konstruksi dan peluncuran,yaitu tugas-tugas yang
dibutuhkan untuk mengkonstruksi, menguji, memasang , dan memberi pelayanan
kepada pemakai.
-
Evaluasi Pelanggan ,yaitu tugas-tugas untuk
mendapatkan umpan balik dari pelanggan.
4.
Prototyping
-
Pengumpulan kebutuhan; Pelanggan dan pengembang
bersama-sama mendefinisikan format seluruh perangkat lunak, mengidentifikasikan
semua kebutuhan, dan garis besar sistem yang akan dibuat.
-
Membangun prototyping; Membangun prototyping dengan
membuat perancangan sementara yang berfokus pada penyajian kepada pelanggan
(misalnya dengan membuat input dan format output).
-
Evaluasi protoptyping; Evaluasi ini dilakukan oleh
pelanggan apakah prototyping yang sudah dibangun sudah sesuai dengan keinginan
pelanggan.
-
Mengkodekan sistem; Dalam tahap ini prototyping yang
sudah di sepakati diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman yang sesuai.
-
Menguji sistem; Setelah sistem sudah menjadi suatu
perangkat lunak yang siap pakai, harus dites dahulu sebelum digunakan.
-
Evaluasi Sistem; Pelanggan mengevaluasi apakah
sistem yang sudah jadi sudah sesuai dengan yang diharapkan.
-
Menggunakan sistem; Perangkat lunak yang telah diuji
dan diterima pelanggan siap untuk digunakan.
5.
Joint Aplication Development
-
Bussiness Modelling; Tahap ini untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan informasi.
-
Data Modelling; Tahap aliran informasi yang sudah
didefinisikan, disusun menjadi sekumpulan objek data.
-
Process Modelling; Tahap dimana objek data yang
sudah didefinisikan diubah menjadi aliran informasi yang diperlukan
untukmenjalankan fungsi-fungsi bisnis.
-
Application Generation; Tahap dimana menggunakan
component program yang sudah ada atau membuat component yang bisa digunakan
lagi.
-
Testing and Turnover; Tahap pengujian sistem.
6.
Herative Life Cycle
-
Perencanaan (Planning); Tujuan dari tahap
perencanaan adalah untuk meng-hasilkan rencana kerja (work plan) formal untuk
pengembangan sistem
-
Pendefinisian Knowledge (Knowledge Definition);
Tujuan tahap ini adalah mendefiniskan kebutuhan knowledge dari sistem
-
Perancangan Knowledge (Knowledge Design); Tujuan
tahap ini adalah menghasilkan rancangan rinci untuk sistem
-
Koding dan pengujian (Code and Checkout); Tahap ini
menandakan dimulainya pemrograman
-
Verifikasi Knowledge (Knowledge Verification); Tahap
ini bertujuan untuk menentukan ketepatan, kelengkapan, dan konsistensi sistem
-
Evaluasi sistem (System Evaluation); Tahap ini
merupakan tahap akhir dari siklus dan bertujuan untuk menyimpulkan apa yang
dipelajari dari rekomendasi untuk perbaikan dan peningkatan.
8.
Konteks
dari proyek IT
Sebuah
fenomena yang unik telah terjadi dalam bidang teknologi informasi. Fenomena ini
dapat dilihat pada seluruh aktivitas yang terdapat didalamnya. Hampir seluruh
aktivitas yang terkait dengan kegiatan perencanaan, pengembangan dan penerapan
teknologi informasi dilakukan melalui aktivitas berbasis proyek. Hal ini
tentunya sangat berbeda dengan menyelesaikan sebuah pekerjaan yang bersifat
rutin, dimana dalam menyelesaikan aktivitas berorientasi proyek, waktu
pelaksanaan kegiatan, sasaran yang ingin dicapai, out put yang akan dihasilkan,
pihak-pihak yang terlibat, besarnya anggaran dan sumber daya yang dibutuhkan
ditetapkan dengan jelas
Fenomena
diatas mengindikasikan bahwa seseorang yang ingin berhasil dalam meniti karir
di dunia IT, harus memiliki kemampuan yang baik dalam bidang manajemen proyek
teknologi informasi. Selain diterapkan dalam bidang konstruksi, ilmu manajemen
proyek juga tidak kalah pentingnya untuk diterapkan dalam bidang IT. Nilai
proyek IT yang cukup besar menyebabkan penanganan proyek-proyek IT harus
direncanakan secara matang. Tidak jarang banyak proyek IT yang mengalami
kegagalan dalam pencapaian tujuan, jadwal maupun batasan biaya yang telah
ditetapkan diawal
9.
Fungsi
kerja manajemen proyek
Manfaat manajemen proyek dilihat
dari segi bidang-bidang tertentu yaitu:
-
Planning to Do ( Perencanaan Selanjutnya). Berfungsi
sebagai memberikan gambaran hubungan ketergantungan dan pekerjaan,
mengindetifikasi jalur kritis, merencanakan sumber daya, dan mengindentifikasi
adanya select
-
Pengendalian. Berfungsi memberikan dasar-dasar
gambaran patokan dalam pengendalian proyek
-
Lingkup kerja dan masalah yang dihadapi. Berfungsi
memberikan dorongan nyata demi terciptanya komunikasi anatar pemimpin proyek
dan pelaksana proyek dilapangan , supaya sukses dan mendapatkan hasil yang memuaskan
Menurut
H.Kerzener bahwa siklus proyek adalah kegiatan dari awal kemudian bertambah
macam dan intensitasnya sampai puncak , ke bawah dan ke atas. Masing-masing
memiliki tahap khusus yang kompleksitas , ukuran dan jadwal yang ditentukan
atau diperlukan kompleksitas proyek tergantung pada:
a.
Jumlah ragam macam kegiatan
b.
Macam dan jumlah kegiatan didalam suatu proyek dan
luar
Supaya proyek cepat berhasil ada
hal yang penting diperhatikan yaitu:
-
Konsepsional proyek
-
Definisi proyek
-
Penyusunan organisasi
-
Pelaksanaan proyek
-
Penyelesaian proyek
Setiap
akhir pengkajian dan keputusan apakah proyek tersebut dapat dilaksanakan ke
tahap berikutnya. Hasil dari setiap tahap terdahulu merupakan masukan utama
bagi tahap berikutnya
10.
Keahlian yang disarankan bagi
manajer proyek
Seorang manajer
proyek harus memiliki keterampilan yang luas hardskill maupun softskillnya
keahlian yang disarankan yaitu :
-
Keterampilan berkomunikasi
yang baik dan tegas
-
Keahlian dalam
berorganisasi sehingga dapat membuat rencana dan menganalisis masalah
-
Keterampilan team-building
untuk memotivasi dan bekerja sama pada tim proyeknya
-
Keterampilan teknologi
-
Keterampilan penyesuaian
diri yaitu fleksibel, kreatif, sabar serta pantang menyerah
-
Keterampilan kepemimpinan
agar memberikan visi yang besar untuk tujuan proyek tersebut
11.
Karakteristik dari manajer proyek
yang efektif dan tidak efektif
Effective project manager:
·
Visioner
·
Kompeten
·
Motivator yang baik
·
Mendukung anggota tim
·
Membuat ide–ide baru
Ineffective project manager:
·
Minder
·
Motivator yang buruk
·
Tidak Kompeten
·
Komunikator yang buruk
SUMBER:
1. http://perbendaharaan.wordpress.com/2008/12/18/definisi-dan-tujuan-manajemen-proyek-teknologi-informasi/
2. http://mystroberi.blogspot.com/2010/10/pengenalan-manajemen-proyek-ti.html
1. http://perbendaharaan.wordpress.com/2008/12/18/definisi-dan-tujuan-manajemen-proyek-teknologi-informasi/
2. http://mystroberi.blogspot.com/2010/10/pengenalan-manajemen-proyek-ti.html
·
Link Presentasinya bisa dilihat di :https://youtu.be/Okou8t_ikco

0 komentar:
Posting Komentar